Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

” Wasiat Seorang Guru kpd muridnya…”

Wasiat seorang guru tentang masalah akal kepada Hisyam ibn Al-Hakam, salah seorang muridnya, dipandang sebagai salah satu di antara wasiat-wasiatnya yang penting: Di bawah ini wasiat beliau yang sangat penting itu, berikut pandangan ilmiah yang sangat berharga.

“Sesungguhnya Allah SWT telah menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berakal dan memiliki pemahaman melalui firman-Nya yang berbunyi, ‘Sebab itu, sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.’ (QS. 39:1 7-1 8).

“Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan manusia dengan hujjah berupa akal, melimpahkan karunia kepada mereka dengan keterangan-keterangan, dan menunjukkan kepada mereka tentang ketuhanan-Nya dengan bukti-bukti.”

“Wahai Hisyam, kemudian Allah menjelaskan bahwa akal itu menyertai ilmu, lalu Dia berfirman, itulah contoh-contoh yang Kami berikan untuk manusia, dan tidak ada yang mau memikirkannya kecuali orang-orang yang berakal.’

“Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berkata, ‘Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan hikmah kepada Luqman.’ Hikmah adalah pemahaman dan akal.”

“Wahai Hisyam, sesungguhnya Luqman telah berkata kepada anaknya, ‘Tunduklah kepada kebenaran, niscaya engkau menjadi orang yang paling berakal, dan sesungguhnya mencari kebenaran itu sangat mudah. Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini ibarat lautan yang sangat dalam, dan telah tenggelam di dalamnya manusia yang sangat banyak jumlahnya. Karena itu, jadikanlah ketakwaan sebagai perahumu, iman sebagai dayungnya, tawakkal sebagai kemudinya, akal sebagai tiangnya, ilmu sebagai kompas¬nya, dan kesabaran sebagai sauhnya.’

“Wahai Hisyam, segala sesuatu itu mempunyai petunjuk, dan petunjuk orang yang berakal adalah berpikir, dan petunjuk berpikir adalah diam. Segala sesuatu itu ada pakaiannya, dan pakaian orang yang berakal adalah tawadhu, dan cukuplah engkau dipandang sebagai orang bodoh bila engkau melanggar apa yang engkau dilarang melakukannya.”

“Wahai Hisyam, Allah mempunyai dua hujjah terhadap manusia: hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah yang lahiriah adalah para Rasul, para Nabi, dan para Imam, sedangkan hujjah batiniah adalah akal.”

“Wahai Hisyam, manusia diwajibkan taat kepada Allah, dan tidak mungkin ada keselamatan tanpa ketaatan, sedangkan ketaatan itu harus dengan ilmu. Ilmu diperoleh dengan belajar, dan belajar diikat oleh ilmu. Tidak ada ilmu yang benar kecuali dari orang yang memperoleh ilmu dari Tuhannya, sedangkan pengetahuan orang alim itu diperoleh melalui akal(nya).”

“Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal itu rela meninggalkan kesenangan dunia untuk memperoleh hikmah, tetapi orang yang dungu tidak akan rela meninggalkan kesenangan dunia untuk mencari hikmah.”

“Wahai Hisyam, sesungguhnya Amirul Mukminin (Imam All bin Abi Thalib) telah berkata, janganlah hendaknya seseorang duduk di barisan paling depan suatu majelis, kecuali ia memiliki tiga hal: menjawab bila ditanya, angkat bicara bila orang lain tidak sanggup melakukannya, dan menyampaikan saran-saran yang baik untuk hadirin. Bila seseorang tidak memiliki salah satu di antara ketiga hal itu tetapi dia ikut dalam suatu majelis, maka dia orang yang bodoh.”

“Imam Al-Hasan bin Ali a.s. mengatakan, ‘Kalau kamu sekalian menginginkan sesuatu kebutuhan, maka carilah ia pada ahlinya.’ Lalu ada seseorang bertanya kepada beliau, ‘Wahai putera Rasulullah, siapakah orang yang ahli itu?’ Beliau menjawab, ‘Yakni orang-orang yang kisah-kisahnya disebutkan Allah dalam kitab-Nya ketika Dia berfirman, ‘Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanyalah Ulul Albab (orang-orang yang berakal).’

“Sementara itu Imam All ibn Al-Husain a.s. mengatakan, ‘Duduk bersama orang-orang shalih itu akan membawa kepada keshalihan, bergaul dengan para ulama akan menambah kecerdasan akal, taat kepada penguasa yang adil akan bisa meningkatkan kekuatan, mengembangkan harta bisa menyempurnakan harga diri, menerima nasihat seseorang bisa merealisasikan kenikmatan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain menunjukkan kesempurnaan akal. Pada semuanya itu terdapat ketenteraman jiwa, baik kini maupun nanti.’

“Wahai Hisyam, orang yang berakal tidak akan mengajak berbicara orang yang dikhawatirkan kebohongannya, tidak meminta kepada orang yang tidak memberinya, tidak mengklaim sesuatu yang di luar kemampuannya, tidak rnengharap sesuatu yang jauh dari jangkauannya, dan tidak mendahului (mengatakan) sesuatu yang dia khawatir tidak sanggup melakukannya. Ketika menyampaikan wasiat keDada para sahabatnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, ‘Aku berwasiat kepada kamu sekalian agar -hendaknya kamu takut kepada Allah, baik ketika sendirian maupun di tempat ramai, bersikap adil ketika senang dan marah, sederhana ketika kaya maupun miskin, menghubungkan tali persaudaraan kepada orang yang memutuskan, memaafkan orang yang berlaku zalim kepadamu, dan menyayangi orang yang membencimu. Jadikan berpikirmu sebagai pelajaran, diammu sebagai kegiatan berpikir, ucapanmu sebagai zikir, dan kedermawanan sebagai watakmu. Sebab, orang bakhil tidak akan masuk surga, dan orang dermawan tidak akan masuk neraka.’

“Wahai Hisyam, hal yang bisa mendekatkan seseorang kepada Tuhannya, sesudah makrifat, adalah shalat, berbakti kepada orang tua, serta meninggalkan dengki, bangga diri, dan sombong.”

“Wahai Hisyam, AL-Masih berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Dalam hubungannya dengan hikmah, manusia ini terbagi dua: Pertama, adalah orang yang yakin akan kebenaran ucapannya, lalu dibuktikan dengan perbuatan, dan yang kedua adalah orang yang yakin akan kebenaran ucapannya tetapi disia-siakannya dengan amal buruknya. Kedua-duanya berbeda satu sama lain. Karena itu, berbahagialah ulama yang membuktikan ucapannya dengan perbuatan, dan celakalah ulama yang hanya mengatakan sesuatu tanpa melakukannya. jadikanlah kalbumu sebagai rumah untuk bertakwa, dan jadikan is penangkal syahwat. Orang yang paling mengeluh di antaramu ketika menghadapi kesulitan adalah orang yang paling cinta terhadap dunia, dan yang paling sabar adalah orang yang zuhud terhadapnya. Janganlah hendaknya engkau berhenti membersihkan kulit tubuh dan kalbumu dari noda dan dosa.

“Janganlah kamu sekalian seperti penggali emas yang mengeluarkan bijih-bijih berharga tetapi hanya bisa memegang cangkulnya. Kalian mengeluarkan kata-kata hikmah dari mulut kalian, tetapi keberingasan masih menguasai kalbu kalian. Wahai budak-budak dunia, perumpamaan kalian adalah pelita yang menerangi orang-orang sekitar kalian tetapi membakar diri kalian sendiri. Wahai Bani lsrail, pergaulilah ulama kendati punggungmu terasa penat. Karena sesungguhnya Allah menghidupkan kalbu yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana menghidupkan bumi mati dengan siraman hujan.’

“Wahai Hisyam, seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang bermuka dua dan bercabang lidah: memuji¬muji saudaranya bila ada di depannya, tetapi melipat bila membelakanginya; dengki bila diberi, menipu bila diuji.”

“Sesungguhnya amal yang paling cepat memperoleh balasan adalah kebajikan, dan yang paling cepat mendapat siksa adalah pembangkangan, dan bahwasanya seburuk-buruk hamba allah adalah orang yang tidak disukai orang lain karena kejahatannya, dan bukankah yang acapkali menjerumuskan eseorang ke dalam neraka tak lain adalah akibat ucapanya? Dan sesungguhnya sebaik-baik Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak perlu.”

“Wahai Hisyam, jauhilah takabur. Sebab, tidak akan bisa 7asuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. Takabur adalah pakaian Allah, dan barangsiapa yang menanggalkan pakaian Allah (untuk dia kenakan pada dirinya), maka Allah akan membenamkannya Jalam neraka dengan kepala di bawah, dan barangsiapa yang bersikap tawadhu’ kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.”

“Wahai Hisyam, tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak mau meneliti dirinya setiap hari. (Yangtermasuk golongan kami) adalah orang yang bila berbuat balk, dia semakin memperbanyak kebaikannya, dan bila melakukan keburukan, segera memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Berpegang teguhlah engkau pada (tali) Tuhanmu, bertawakallah kepada-Nya, dan kalah kan nafsumu agar engkau bisa mnecegah tarikannya.”

Itulah rangkaian bunga yg dipetik dari taman pengetahuan yg indah yang meniupkan wangi ilmu dan disirami aroma keikhlasan, dihiasi dengan keindahan bunga ibadah dan pengabdian diri kepada Allah, itulah taman kenabian.

Ini adalah wasiat dari Imam Musa bin Ja’far a.s (salah satu cucu Nabi Kita Muhammad Saww) kepada Hisyam Ibn Al-Hakam.

Semoga ada manfaatnya…

Belum Ada Tanggapan to “” Wasiat Seorang Guru kpd muridnya…””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: