Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

Tragedi Di Malam 19 Ramadhan…

 

Saat perang Uhud, Imam Ali berusia 25 thn baru menikah dgn Fatimah, dan berputrakan Hasan, anak pertamanya. Keluarga baru biasanya menghasratkan kemajuan berangsur dlm kehidupan, namun satu-satunya hasrat besar Ali adalah syahid di jalan Allah.

Lalu Nabi berty kepada Imam Ali, “Kesabaran sebanyak apa yg akan engkau tunjukkan dlm kematian syahid?” Ali menjawab,”Mohon, janganlah kiranya berbicara tentang kesabaran; lebih baik tanyakan kepadaku seberapa besar aku akan bersyukur.”

Sebagai konsekuensi dari ucapan Nabi dan tanda-tanda yg dikenal dan diterangkan Ali, keluarga dan para sahabatnya cemas. Dibulan puasa terakhir itu, ia bertamu keberbagai tempat untuk berbuka puasa. Tetapii ia makan sangat sedikit, anak-anaknya secara simpatik menanyakan menapa ia begitu banyak mengurangi makan. Ia mengatakan bahwa ia ingin menemui Tuhannya dgn perut kosong. Maka, merekapun menyadari bahwa Ali sedang menunggu sesuatu yg sudah dekat.

Pada malam sebelum 19 ramadhan anak-anak bersamanya beberapa waktu. Imam Hasan kemudian kembali kerumahnya sendiri. Ali mempunyai tempat salat pribadi, tempat ia menyendiri untuk berhubungan dgn Tuhannya setelah melaksanakan urusan pribadi dan tugas umumnya.. Matahari blm terbit ketika Imam Hasan datang lagi menengok ayahnya. Ali menaruh rasa cinta yang khusus kepada anak-anaknya dari Fatimah. Ia berkata kepada putranya,”Ketika aku sedang duduk disana semalam(malam lalu), aku tertidur dan bermimpi tentang Nabi. Kepada beliau aku berkata : ‘Aku telah menderita demikian banyak kerena umatmu.’ Beliau saw mengatakan,’Kutuklah mereka!’ Aku mengutuk mereka dan berdoa kepada Allah agar mengambil aku dari mereka dan mengirimkan orang yg tak cakap mereka.

Suara itik terdengar dari luar rumah. Imam Ali meramalkan sebentar lagi bunyi keluhan dan rintihan akan mengalahkan bunyi itik itu. Keluarganya berusaha mencegahnya ke mesjid hari itu, dan menyarankan agar mengutus orang lain saja untuk menggantikannya sebagai imam masjid. Mula-mula disebutkan nama Ja’dat bin Hubairah, kemenakannya , tetapi kemudian ia mengatakan akan memimpin shalat itu. Ia dianjurkan untuk membawa teman, tapi lagi-lagi ia menolak.

Menjelang akhir hari itu,ketika ia dibaringkan dgn luka parah, ia mengatakan, “Demi Allah pedang didahi saya ini adalah seperti pecinta yang disatukan dgn kekasihnya, atau seperti musafir dimalam kelam yg mencari-cari sumber air tempat memasang kemahnya dan riang gembira begitu menemukannya. Saat berangkat ke mesjid beliau memang sangat riang dan berusaha menemui “penyebab-nya”. Ia merasa bahwa suatu peristiwa besar akan terjadi. Setelah azan ia mengucapkan selamat berpisah kepada fajar dan mengatakan,”Wahai fajar, sepanjang hayat Ali, pernahkah engkau muncul dan mendapatkannya tertidur? Sejak sekarang matanya akan tertutup untuk selama-lamanya.” Ketika turun dari usungannya , ia berkata, “Bukalah jalan bagi mukmin mujahid…”

Belum Ada Tanggapan to “Tragedi Di Malam 19 Ramadhan…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: