Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

” Si Bahlul “

Pada suatu hari, Bahlul mendatangi suatu masjid. Tiba-tiba dia mendengar seorang laki-laki meyombongkan dirinya di hadapan orang banyak di dalam masjid. Orang itu mengatakan bahwa dia adalah seorang alim yang menguasai berbagai cabang ilmu. Di antara perkataannya kepada orang-orang itu adalah, “Sesungguhnya ja`far bin Muhammad (ash-Shadiq) berbicara dalam beberapa masalah yang tidak menarik/bagiku.” Di antaranya:

Dia (Jafar) berkata, ” Sesungguhnya Allah maujud(ada), tetapi Dia tidak dapat dilihat, baik di dunia maupun di akhirat.’ Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak dapat dilihat? Sungguh, ini betul-betul suatu hal yang bertentangan.”

Dia berkata, ” Sesungguhnya setan disiksa di dalam api neraka,’ padahal, kata orang itu, setan ciiciptakan dari api. Maka, bagaimana mungkin sesuatu disiksa dengan apa yang ia diciptakan darinya?”

Dia juga berkata, ” Sesungguhnya perbuatan-perbuatan seorang hamba dinisbatkan kepada dirinya sendiri,’ padahal ayat¬ayat Alquran menunjukkan secara jelas bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu (termasuk perbuatan).”

Ketika Bahlul mendengar perkataan orang itu, dia segera mengambil tongkatnya dan memukulkannya ke kepala orang itu sehingga melukainya. Darah pun mengalir ke wajah dan jenggotnya. Maka, orang itu menghadap Harun ar-Rasyid dan mengadukan perbuatan Bahlul tersebut terhadapnya.

Ketika Bahlul dihadirkan ke hadapan Harun dan ditanyai mengapa dia memukul orang itu, dia berkata kepada Harun, “Sesungguhnya orang ini menyalahkan Jafar bin Muhammad a.s. dalam tiga masalah.
Pertama, dia mengatakan bahwa segala perbuatan seorang hamba sesungguhnya Allahlah pelakunya. Maka, luka yang dialami orang ini semata-mata perbuatan Allah. Lalu, apa salahku?”

” Kedua, dia mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada pasti dapat dilihat, maka jika rasa sakit ada pada kepalanya, kenapa is tidak terlihat?”

” Ketiga, sesungguhnya dia diciptakan dari tanah dan tongkat ini juga berasal dari tanah, sedangkan dia mengatakan bahwa suatu jenis tidak akan disiksa dengan jenis yang sama. Jika memang demikian halnya, lalu mengapa dia merasakan sakit dari pukulan tongkat ini?”

Harun ar-Rasyid merasa kagum dengan perkataan Bahlul. Maka, dia melepaskan Bahlul dari hukuman karena memukul orang itu.

Belum Ada Tanggapan to “” Si Bahlul “”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: