Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

” Pernikahan Yang Agung “

Sekelumit tentang kehidupan rumah-tangga Sayyidatina Fatimah a.s dgn Imam Ali a.s :


Rasulullah SAW bersabda kepada para peminang sy Fatimah: ” Fatimah milik Allah SWT dan menjadi ketetapan Allah SWT untuk menikahkannya kepada siapapun.” (Kitab ar-Raudhatul Fa’iq bin Saad al-Misri) . Pada kitab Nuzhatul Majalis dan as-Suyuthi kitab Tadhirul Khawas, meriwayatkan bahwa Rasul Allah SAW bersada:

“Jibril As mengabarkan kepadaku bahwa: Allah SWT telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit, disaksikan 40.000 Malaikat dan bidadari menghiasi Fatimah dengan gaun pengantin dari permata dan memerintahkan kepadaku agar segera menikahkannya di bumi.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai Fatimah, aku nikahkan kau dengan orang yang pertama beriman kepada Allah SWT & kepadaku.”
[Sawaiq Muhriqah hal 85- Kifayah Al-talib hal 298- Dhakair Al-Uqba hal 29].

Imam Ali As dipinjami sebuah kamar berukuran kecil di belakang rumah Sahabat Al-Haris ra. Adanya berita perkawinan itu, Imam Ali As meratakan batu-batu tajam di kamarnya hingga kejalan umum, lalu menimbuninya dengan pasir halus. Al-Haris ra datang dengan heran lalu bertanya:

Haris : ” Mengapa kau rapikan tanah sedemikian itu, padahal sebelumnya kakimu tak peduli akan ketajaman batu¬batu itu..?”

Ali : ” Putri Nabiku akan tinggal bersamaku di sini.”

Haris : ” Gunakan kamarku wahai Ali.”

Ali : ” Kami Ahlul Bait diwajibkan oleh Allah SWT hidup setara dengan rakyat miskin.”

Doa Rasulullah SAW pada saat menikahkan Imam Ali As dengan Sy Fatimah az-Zahra As:

” Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya. Merakhmati dan memberkati keduanya. Meningkatkan kualitas keturunannya. Menjadi pembuka pintu rakhmat, Sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi seluruh umat manusia.”

50 hari setelah pernikahannya, Rasul SAW baru mengizinkan Ali As membawa pulang Fatimah. Sebelumnya Ummu Salamah berkunjung ke Imam Ali As lalu bertanya:

US : ” Wahai Ali.. bukankah Fatimah telah menjadi istrimu..?”
I. Ali : ” Benar, wahai Ummul Mukminin”
US : ” Mohonlah pada Rasul untuk membawanya kerumahmu”
Ali : ” Aku tak patut bersuara sebelum Nabiku bersabda ”

Ummu Salamah ra dan para Sahabat ra mengisahkan rasa belasnya terhadap Imam Ali As dan Fatimah As kepada Rasulullah SAWW dan memohon agar keduanya diizinkan hidup bersama. Kemudian Cintailah siapapun yang mencintainya. Musuhilah siapapun yang memusuhinya. Dan hindarkanlah semuanya dari segala siksa dan api neraka.

Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra r.a., Imam ‘Ali r.a. tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasihsayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain — radhiyallahu ‘anhuma, dua orang putera Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipandang sebagai pewaris ilmu dan hikmah kebijakan beliau serta sebagai orang yang mempunyai kesamaan ciri dan kekhususan dengan beliau s.a.w. kecuali dalam hal kenabian.

Di dalam rumah ahlu -bait Rasulullah s.a.w. itulah Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu anhuma — dibesarkan di bawah naungan beliau. Betapa puas perasaan beliau menyaksikan kesentosaan dan keserasian hidup putra-putrii dan cucu-cucunya. suasana demikian itu oleh beliau saww dirasakan sebagai hiburan yang menghilangkan kelelahan dan meringankan kesukaran-kesukaran berat yang dihadapinya sehari-hari dalam menjalankan tugas da’wah dan memimpin perjuangan ummat untuk menegakkan kebenaran Allah di muka bumi.

Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah saww sering duduk berbincang-bincang dengan mereka Imam Ali r.a. duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra r.a. duduk di sebelah kiri beliau. Sedang dua orang cucu befiau, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma — duduk di atas pangkuan beliau s.a.w. Secara bergantian beliau menciumi kedua orng cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bg mereka semua dan mohon kpd Allah Swt agar berkenan menjauhkan mrk dr segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.

Sungguhlah, seumpama orang yang benar-benar beriman dipersilakan memilih: Manakah yang lebih disukai, dunia dengan segala kesenangan dan kegemerlapannya ataukah butir-butir gandum yang ditumbuk oleh Rasulullah s.a.w. bersama Imam ‘Ali r.a.; orang itu pasti lebih suka memilih butir-butir gandum itu!

Jadi, di manakah sesungguhnya letak kemiskinan dan kemelaratan? Di dalam rumah yang sering menjadi tempat turunnya wahyu Ilahi, tempat Rasulullah s.a.w. bersama Imam ‘Ali dan Fatimah Az-Zahra r.a. bersama-sama menumbuk gandum, di rumah tempat Rasulullah saww bersama ahlu-baitnya biasa minum air dengan cawan tembikar; ataukah di dalam istana-istana kaum bangsawan dan kaum hartawan Persia/Rumawi yang penuh dengan bau busuk perzinaan, arak dan kemaksiatan?!

Fatimah Az-Zahra hidup mendampingi suaminya, Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a., yang tidak mempunyai apa pun juga selain, hati dan pedang, ilmu dan iman. Isteri yang serta dan ikhlas itu menepung sendiri hingga tapak tangannya membengkak, menimba air sendiri hingga bajunya basah kuyup, menyapu rumah dan halaman hingga pakaiannya berdebu. Ia tidak hidup sebagaimana Asiyah binti Mazahim, wanita pendamping Fir’aun yang mempunyai piramid dan bengawan Nil, seorang permaisuri yang hidup serba dilayani oleh beratus-ratus budak pembantu dan tidak pernah bekerja selain melarang dan menyuruh. Cobalah kita bayangkan: Manakah di antara dua orang isteri itu yang lebih bahagia hidupnya, lebih tenteram hatinya dan lebih cerah keadaannya?!

Seandainya alat-alat rumah tangga kepunyaan Fatimah Az¬Zahra r.a. seperti batu gilingan gandum, sapu, wadah air yang terbuat dari kulit dan lain sebagainya; masih ada hingga zaman kita dewasa ini, perkakas-perkakas itu barangkali akan dikeramatkan dan dikunjungi oleh manusia dari berbagai pelosok dunia, baik mereka yang beragama Islam maupun yang beragama lain! Mungkin mereka akan menilai barang-barang itu lebih berharga dari pada seribu bengawan Nil serta seribu piramid!

Apakah sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Muhammad Rasulullah saww dan keluarganya bagi kepentingan ummat manusia sedunia ? Ummat manusia telah mendapat tuntunan untuk beroleh kebajikan, rahmat Allah dan kemuliaan abadi; yakni mereka telah beroleh petunjuk serta hidayat untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah swt melalui agama yang benar. Di akhirat kelak mereka akan memperoleh syafa’at (pertolongan) dan kebahagiaan, khusus bagi mereka yang dicintai beliau dan mereka yang mencintai beliau.

Sebagian isi catatan dikutip dari buku IMAMUL MUHTADIN, SY. ALI BIN ABI THALIB A.S, karya HMH. Alhamid Alhusaini.
Mengenai kehidupan rumahtangga Imam ‘Ali r.a. Silakan Baca “Siti Fatimah Az-Zaha r.a.”, karangan HMH Alhamid Alhusaini.

Belum Ada Tanggapan to “” Pernikahan Yang Agung “”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: