Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

” Ketika Teguran Itu Datang “

 

Seperti biasa aku sering janjian bersama temanku untuk shoping and makan2, ga rutin sih….Cuma dlm sebulan bisa 4 kali bahkan lebih. Kita belanja di salah satu hypermarket ternama di Jakarta, biasa yg namanya perempuan klu sudah belanja suka ‘laper mata’, yg ga perlu dibeli ya dibeli. Ga ada istilah mikir ‘cukup ga nih duit?’, klu duit ditas ini kelihatan masih ada ya…udah percaya diri aja, belanja dan belanja, ‘klu kurang gimana?’ kan ada auto debet and kartu kredit, wuih…….betapa senangnya hati ini….semua yg kuinginkan pasti kubeli, malah terkadang ga ada istilah ‘lihat harganya dulu’ krn yakinnya klu uang ini cukup, ah…pasti tidak akan melebihi saldo rekeningku.

‘Makan yuk….?’ Kata Sarah temanku. Aku menuruti keinginannya, kita makan2 direstaurant yg cukup lumayan harganya( kira2 klu makan rmh makan pinggir jalan bisa cukup untuk 15 orang bahkan mungkin lebih), menurutku rasanya sih…sama aja malah kadang lebih enak dan nimat dengan restaurant dipinggir jalan, Cuma menang penampilan saja, yah….penampilan, penampilan bagiku nomor satu. Tak terasa malam mulai agak larut, kamipun bersiap-siap utk pulang.

Ketika itu hujan turun sangat lebat, sembari menunggu datangnya supir kami menunggu dipinggiran toko. Aku melihat anak2 sedang berlarian untuk menawarkan payung sewaan, seorang anak mendekatiku, ‘Payung bu…?!’ ‘ iya…tunggu ya…mobilnya blm datang.’jawabku. Entah mengapa ada rasa lain dalam hatiku, hatiku jd penasaran dan ingin bertanya padanya. ‘Namamu siapa de’..? ‘Ridwan…’ jawabnya. Rasa ingin tahuku terus mengejar, “Kamu engga takut sakit,ujan-ujanan begini ?” kataku. “ Malah seneng bu…,, dapat rijki tambahan “katanya sambil senyum2. “ Memang orng tuamu ga marah kamu seperti ini?”kataku. “ Engga..! mereka ga pernah marah, yg penting aku senang. Inikan Cuma musim hujan doang bu…” Katanya. “ Memang kamu dapat berapa?” kataku. “ Ga tentu bu…klu lg banyak pengunjung ya….bisa sampai 30 rb, klu siang sy jualan Koran bu..” katanya. “Kalau Koran berapa dapatnya?”kataku lg. “ Hampir sama, tp terkadang kurang…?” katanya. “kamu sekolah?”kataku. “iya” jwbnya. “Kelas berapa?” “ kelas 6 “ktnya. Aku melamun, Hujan oleh sebagian orang dikecam tapi oleh mereka dianggap rijki, pikirku.

Aku jadi merenung setelah obrolan itu, ada yg sedang berkecamuk dalam hatiku, serasa lemas seluruh badan tak ada gairah, tak lama mobil datang, siridwan mengantarkan aku sampai kemobil. Sepanjang perjalanan aku terus terdiam, batinku seperti bergejolak. Aku terus memikirkan apa yang telah terjadi , jadi merenung gara2 omongan si Ridwan.

Pendapatannya tak lebih banyak dari pulsaku pikirku, belum lagi kartu handponeku yang pasca bayar, pra bayar plus CDMA, berapa semua itu klu ditotal2. Belum lagi handphoneku yg selalu berubah-rubah mengikuti trend mode. Sungguh sangat besar sekali dibandingkan dengan pendapatan siRidwan, Aku seperti menyesali diri, dan menyesal dgn sikapku selama ini. Berapa banyak sudah uang yang kuhabiskan untuk belanja, untuk membeli mainan anak, untuk membeli tasku, untuk membeli sepatuku yg sebenarnya masih banyak dirumah.

Aku jd mengingat-ngingat pengeluaranku seharian tadi, dari yg beli bensin 150 rb, dari yg belanja, dan dari yg makan direstaurant , sungguh semua itu seperti cambuk untukku. Aku seperti menyesal dengan apa yang pernah terjadi tadi, kuhukumi diriku, kukutuk diriku, mengapa aku begitu tidak melihat dgn apa yg terjadi diluar sana? Muslim macam apa aku ini? Sungguh sebenarnya itu semua sangat jauh dari ajaran Ahlul Bait Nabi SAWW. Tentu seandainya Sayyidatina Fatimah a.s masih hidup, tentu ia tidak akan suka melihat kelakuanku ini. Terus perang dan perang hati ini. Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya. Betapa sangat berartinya uang yang telah kukeluarkan seharian bagi siridwan, mungkin ia bisa mendapatkan itu semua dalam berbulan-bulan, tapi itu kulakukan hanya dalam waktu sehari. Hati ini seperti dicabik-cabik tak menentu perasaan.

Mobil berhenti disuatu lampu merah, aku melihat ke jendala, kulihat para pejajan kaki lima, dan jualan makanan berlarian menuju bis, untuk menjajakan jajanannya. Aku sedang melamun jadi tambah melamun lagi krn timbul dalam hatiku ‘berapa yg mereka dapatkan dr hasil jualannya?’

Kumenoleh pada temank ” Sarah….kata loe berapa die dapat uang dari hasil jualan? ”

Sarah menjawab ” Paling 5 atau 10 rb, emang kenape kok loe ty begitu? ”

” engga ape2…, gue Cuma kesian pendapatan ga seberape, tapi nyawa taruhannya, berebutan , lari-larian dilampu merah, ujan-ujanan lagi…., kesian ya….” Kataku.

” udeeeeeeeh…ga usah dipikirin Ada Allah!, itu urusan Allah, masing-masing kan udah ada bagiannye ” lanjut Sarah.

Selintas dan sebentar omongan sarah, sedikit menentramkan hatiku yg sedang kecewa sama diri sendiri. omongan itu ‘benar’ tapi kenapa ya…hatiku seperti tidak menerima dan bergejolak lagi.

Sejak hari itu aku jadi sering merenung, dan memikirkan perkataan si sarah. Perkataannya benar tapi kenapa ya…hati kecilku tidak menerimanya.

Yah….setelah merenung aku mendapatkan satu kesimpulan bahwa perkataan Sarah memang benar tapiiii….bukan pada tempatnya. Bukankah kita diajarkan untuk care terhadap sesama Muslim, bukankah intinya ajaran agama adalah kita dianjurkan untuk selalu memberi dan menolong. Bukankah kita disuruh untuk menjauhi Mubazir, Bukankah itu yang selalu Rosulullah Saww contohkan.

Aku jadi teringat perkataan ustad, orang miskin yang seperti itu yang wajib diberi, ia tidak menengadahkan tangan untuk meminta karena ia punya harga diri, justru orang yg seperti itu yang harus dan wajib kita datangi rumahnya. Emm….mungkin ini yang dimaksud ustadku….orang-orang seperti Ridwan dan masih banyak lagi yg lainnya yang wajib kita tolong.

Sungguh…Hari itu merupakan hari yang bersejarah dalam hidupku, karena dari situ aku mulai sadar dan berusaha untuk merubah sikap hidupku selama ini. Sebenarnya sudah banyak ke mubazhiran yang kulakukan, demi nafsu…, ya….selama ini aku telah diperbudak oleh nafsuku sendiri.

Memang tidak mudah awalnya, memang susah klu sudah mengakar dalam diri, jadi apapun dijadikan alasan untuk pembenaran diri. Ku cari akal untuk merubah sifatku, klu belanja terkadang aku menyuruh orang untuk membeli, kucatat apa yg harus dibeli. Terkadang hati ini meronta juga untuk shoping ,”Yah…kadang-kadangkan kita perlu refresing(itulah pembelaan hatiku)”, ku akali lagi dengan membawa uang secukupnya, kucatat apa yg perlu dibeli, tidak membawa kartu ATM atau kartu kredit. Sekarang semuanya kuhisab ‘penting atau tidak’, ‘ada manfaatnya atau tidak’ Yah….Alhamdulillah sangat lumayan jauh sekali pengeluaranku dibanding dulu.

Sebagai pembenaran diri lagi, setiap barang ada yang masuk(atau yang baru kubeli) musti juga ada yang keluar dari rumahku, jadi tidak ada yang menumpuk dirumah, alias mubazir.

Aku bukan manusia sempurna, Cuma manusia itukan harus berusaha untuk menuju kekesempurnannya, justru itulah yang akan dinilai oleh Allah SWT. Yah… ini Cuma ikhtiarku utuk merubah sikapku yang salah selama ini, sikap yang tentunya tidak diridhoi oleh Nabi dan keluarganya, yang tentu pula Allah tidak akan Ridho, wallahu a’lam.

Tulisan ini tiada maksud untuk menyinggung siapapun, mohon maaf yg sebesar-besarnya bila ada yg tersinggung dgn tulisan ini, ini hanya sebagai berbagi hikmah. Ambil baiknya buang jeleknya, semoga ada manfaatnya, amiiiin.

Ya…Allah sungguh sangat cantik dan indah teguran-MU kepadaku, Engkau seperti sedang menepuk-nepuk bahuku yang sedang tertidur pulas sampai aku tersadar. Engkau seperti sedang membelai rambutku dengan ke MAHA RAHMAN-MU, teguran-MU tak menyakitkan hatiku, tapi justru membuatku semakin tersungkur menyesali segala kehilafanku. Ampuni segala dosa dan kehilafanku

Ya…Allah…..
Tuhanku….Kuadukan pada-Mu diri…
Yang memerintahkan kejelekan
Yang bergegas melakukan kesalahan
Yang tenggelam dalam maksiat pada-Mu
Yang menentang kemurkaan-MU
Yang membawaku pada jalan kebinasaan
Menjadikan aku orang celaka yang terhina, yang banyak noda, yang berangan hampa
Bila diriku ditimpa bencana ia berkeluh kesah
Kala untung diraih bakhil bertambah
Cendrung pada mainan dan hiburan
Dipenuhi kealpaan dan kelalaian
Mendorongku pada dosa,menghalangiku untuk bertaubat.
Ilahi….kuadukan pada-MU musuh yg menyesatkanku
Setan yang menggelincirkanku
Ia sudah memenuhi dadaku dengan keraguan
Godaannya telah menyesakkan hatiku
Sehingga hawa nafsu menopangku
Ia hiaskan bagiku cinta dunia
Ia menghalangiku untuk taat dan taqarrub
Ilahi…Kuadukan pada-Mu hati yang keras dengan goncangan was-was
Yang tertutup noda dan kekufuran
Mata yang beku untuk menangis krn takut pada-MU, tetapi cair untuk kesenangan dirinya.
Ilahi…..tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa-MU
Tiada keselamatan bagiku dari bencana dunia kecuali dgn penjagaan-MU
Aku bermohon pada-MU dengan keindahan hikmah-MU, dengan pelaksanaan kehendak-MU
Jangan biarkan aku mencari karunia selain-MU, jangan jadikan aku sasaran cobaan
Jadikan Engkau pembelaku melawan musuhku
Penutup cela dan aibku, Pelindung dari bencana, Penjaga dari durhaka.
Dengan kasih dan sayang-MU, Wahai Yang Terkasih dari segala yang mengasihi.

(Doa ini adalah doa Imam Ali Zainal Abidin a.s, cucu Rosulullah Saww )

Belum Ada Tanggapan to “” Ketika Teguran Itu Datang “”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: