Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

Guruku…

 

Berkemeja putih lengan pendek dgn menggunakan sandal kulit yg biasa saja, ditemani dengan kantong kresek yg ditentengnya, berjalan dgn langkah mantap, sambil sesekali melihat kekanan dan kekiri, dan senyum ramahnya pada setiap orng yg kebetulan melihatnya. Betapa sering ia menaiki Mitro mini yg penuh sesak dan angkutan umum lainnya, untuk berkeliling mengajar. Ya…..dialah ustadku, ustad yg selalu dinanti disetiap minggu jadwal ta’lim ku.

 

Orang-orang yg pernah mengenal dekat dengannya, pasti mempunyai kenangan tersendiri. Begitupun kami murid-muridnya, yg masih kuingat sampai sekarang ialah caranya mengajar yg ‘rada’ lain dari yg lain, yaitu bila ia sedang menceritakan sejarah yg memang membuat kami selalu ‘menyimak’ dengan serius, dengan tiba2 ia menghentikan pelajaran tersebut dan berlanjut satu minggu mendatang. Tentu kami ramai menggerutu, “ yah…kok berenti ustadz..?” kata kami ramai2.

 

Ustad menjawab : “ Ente-ente  enak-enakan mendengarkan dengan duduk santai dan manis, ana(saya) susah payah mencari ilmu diluar negri.”

 

“ Gerrrrrr…”  kami semua tertawa mendengar perkataan ustad tersebut. Itulah salah satu cara beliau menghentikan pengajian. Tapi kami semua sangat maklum dengan sifat khas beliau tersebut.

 

Salah satu sifat beliau yg terpuji ialah sifat care dan sosialnya yg tinggi kepada sesama. Bila ia mempunyai uang yg didapat dari murid atau bisnisnya yg goal, tak segan-segan ia begitu ringan tangannya utk menolong. Beliau tak bisa mendengar ada orng yg kesusahan, Ia akan begitu cepat dan sigap utk menolong, bila ia tidak sanggup utk menolong akan dimintakannya pada orng lain yg lebih mampu darinya.

 

Yang kuingat waktu itu, salah satu orng terdekatnya bercerita padaku, bahwa ustad sdg mencari dana untuk membantu seorang anak yg kemasukan lidi dimatanya, anak tersebut ia jumpai ketika berada dikereta kelas ekonomi dalam perjalanan ke Bogor. Serta merta ia cari dana kepada murid2nya/teman2nya yg mampu, utk membantu operasi anak tersebut.

 

Dan kisah yg lain ia berusaha mencari dana untuk membantu masyarakat disatu kampung yg sedang dilanda kekeringan air, beliau berusaha membantu utk membelikan pompa air, yg dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya.

 

Salah satu teman(wanita) sepengajianku , ayahnya baru meninggal dunia, sedangkan ia masih kuliah, ustadku dengan cepat dan sigap mencari sanak family temanku tersebut utk meminta agar bersedia menolong biaya kuliah temanku tersebut. Temanku begitu haru, ketika mendengar ustad menyatakan, ” jgn kuatir masalah kuliah karena nanti akan ada yg membantu. ” Ia menangis menceritakan itu padaku, begitu besar perhatian ustad pada muridnya.

 

Dan betapa seringnya ia menanyakan kpd murid2nya yg kurang mampu ” Apakah Ada ongkos untuk pulang ?”.

Salah satu ucapan beliau yang aku ingat sampai sekarang “ Ana(saya) punya uang dan ana tidak punya uang, ana tetap ana “, maksudnya uang tidak akan bisa merubah dirinya , dia tetap dia. Itu terbukti bila ia memperoleh uang lebih akan ia bagi2kan kepada saudara atau muridnya yg susah, uang tersebut ia sisakan hanya beberapa lembar yg akan ia berikan untuk keluarganya. Ia tdk pernah memiliki banyak uang krn memang uang tersebut selalu dibagi-bagikannya. Padahal bila ia ingin makmur atau kaya bukanlah suatu hal yg sulit baginya, tapi beliau tdk menginginkan itu semua.

 

Salah satu wasiat beliau kpd anaknya ” Bila kamu tidak menyukai orang 99%, jangan dekati dia di 99% tapi dekatilah dia di 1%nya “. Itulah mengapa ia bisa dicintai dan ditrima oleh orang2 yg berbeda mazhab dengannya. Dan itu memang benar adanya, karena itu kudengar langsung dari teman beliau yg bersebrangan mazhab dengannya, yg ketika tau aku muridnya ia langsung mengacungkan jempol utk beliau.

 

Dan masih banyak kisah yg lainnya,  yg  membekas pada orng2 yg pernah ditolongnya. Begitulah cerita tentang ustadku yg kini telah Almarhum. Tiada manusia yg sempurna, siapapun itu. Tapi dengan selalu berbuat baik maka Allah akan menutupi segala noda dan cela pada manusia. Jarang ada orang yang bisa mengorbankan Ego dan malunya utk kepentingan orang lain(Termasuk aku sendiri).  seperti ustadku ini, ia rela mengorbankan kepentingan dirinya dan membuang rasa malunya utk mecari dana utk kepentingan orang lain. Teladan seorang guru yg baik, akan memberikan bekas yg mendalam pada muridnya. Kenangan tersebut akan terus ada tertanam dalam benaknya. Mungkin benar, bahwa Banyak orng yg(Mungkin) dikagumi dan dipuja-puji, tapi tidak banyak   orng yg bisa memiliki simpati dan cinta yg terus ‘ada’ walaupun orng tersebut telah tiada. Semua itu karena ‘ikhlas’, dengan ikhlas  maka manusia tersebut akan diangkat oleh ALLAH. Imam Ali bin Abi Thalib a.s berkata : ” Nilai setiap orang adalah dalam prestasinya “

 

kutulis ini sebagai ungkapan rasa rinduku pada beliau, dengan diiringi doa dan air mata untuknya. Ya..Ustad…..Betapa bangganya aku pernah menjadi muridmu, air mata ini selalu mengalir bila teringat dirimu, seakan engkau hadir dihadapanku menemaniku menulis ini untukmu, semoga  segala apa yg telah engkau lakukan utk umat akan membawamu kepada derajat yg tinggi disisi-NYA, Ilahiiii…amiiiin.

 

 

Mohon sudi kiranya yg membaca ini  berkenan untuk membacakan Al-Fatihah dan sholawat untuk beliau, syukran wa afwan….

 

Belum Ada Tanggapan to “Guruku…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: