Fatimah12's Weblog
Just another WordPress.com weblog

Agu
02

 

Sungguh bukan suatu hal yg mudah untuk mengungkapkan ‘Seorang manusia suci’ yang tiada bandingannya didunia ini. Hidupnya penuh dgn ujian yg tiada yg sanggup utk memikulnya. Dia besar dalam suasana sulit. Ibunya meninggal saat ia masih terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas menguruskan rumahtangga seperti memasak, mencuci, mengemas rumah dan membereskan berbagai keperluan ayahandanya, Rasulullah saww. Sayyidah Fatimah selalu bekerja keras di rumahnya.

Dia selalu menggiling gandum menjadi tepung dengan menggunakan batu. Pekerjaan ini membuat tangannya memar, akan tetapi dia tidak pernah berkeluh-kesah. Ayahandahnya, Nabi Saww dapat melihat betapa kerasnya dia bekerja. Suatu hari Nabi Saww berkata bahwa beliau akan memberikan sesuatu yang akan membantu meringankan pekerjaannya. Nabi Saww berkata bahwa apa yang akan diberikan kepadanya adalah lebih baik daripada dunia beserta isinya. Tahukah kalian hadiah apa yang diberikan oleh Nabi? Nabi menunjukkan bagaimana Sayyidah Zahra dapat bertasbih. Beliau berkata bahwa setiap habis salat, dia harus melafadzkan: Allahu Akbar – (Allah Mahabesar) – 34 kali Alhamdulillah – (Segala puji untuk Allah) – 33 kali Subhanallah – (Maha Suci Allah) – 33 kali Sayyidah Zahra sangat senang menerima hadiah khusus ini.

Dia senantiasa melakukan Tasbih setiap selesai menunaikan salat dan Tasbih ini kemudian lebih dikenal sebagai Tasbih Fatimah. Salat adalah ibarat sebuah kusuma yang indah dan Tasbih Sayyidah Fatimah memberikan bunga yang cantik ini aroma yang semerbak. Sehingga setiap mengerjakan salat kita harus membaca Tasbih Sayyidah Fatimah ini karena kita ingin salat kita seperti sebuah bunga yang indah dengan aroma yang semerbak.

Apr
23

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

اللّهم صلى عل محمّد و ال محمّ

 

 

Tadi ketika  berada disatu tempat, kebetulan bertemu dengan satu orang(sebut saja B), si B begitu sangat baik dan hormat menyambut saya, saya sempat risih juga krn sambutannya yang sangat baik, saya memahami ia berprilaku seperti itu karena ‘seseorang’ yang ia hormati(sebut saja A), A ini adalah sahabat baik saya yg cukup dihormati dan disegani. Saya jadi malu dan merenung saya ini bukan siapa-siapa karena ‘sebuah nama’ saya jadi ikut mendapat berkahnya, padahal B ini tidak mengenal saya secara pribadi, hanya mengenal sepintas saja bahwa saya sahabat A.

 

Bukan kali ini saja saya bisa merasakan hal-hal yg seperti ini, ketika aku berjalan bersama dengan sahabatku itu orang-orang turut menghormatiku, senyum ramah mereka menebar kepada orang2 yang dekat dgn sahabat saya ini.

 

Satu waktu saya juga pernah harus mengurus satu surat penting disalah satu kantor, kebetulan sahabat saya A ini mempunyai teman yang bekerja dikantor tersebut, A ingin menolong saya dengan menelphon temannya yg bekerja dikantor itu ‘Tolong Bantu sohib saya ini’ kata A. ketika saya sampai dikantor itu saya lihat orang banyak mengantri untuk mengurus surat yang sama dengan saya, saya hanya menyebutkan satu nama pada pengurus dikantor itu, lalu dengan Sigap mereka cepat mengurus segala keperluan saya, tak berapa lama selesai sudah surat yang saya butuhkan, mereka menyerahkannya dengan sangat ramah dan sopan, tanpa perlu saya mengantri lama berjam-jam. Saya sempat termenung juga memikirkan hal ini, berkah sebuah nama lagi ‘Fikir saya’.

 

Mungkin hal yg sama juga pernah anda alami, apalagi untuk kalangan-kalangan tertentu yang memiliki kekuasaan tentunya, pasti sering merasakan kemudahan-kemudahan tertentu.

 

Kawan…Itu semua jabatan yg diberikan oleh manusia, bagaimana bila jabatan yang  diberikan oleh ALLAH TUHAN PENGUASA ALAM SEMESTA. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana penghormatan para Malaikat atau para aparat yang bekerja pada ‘PEMERINTAHAN ILAHI’

 

Subhanallah… Kawan…Beginikah nanti kelak diakhirat, ketika malaikat2 itu memandang umat Nabi Muhammad Saww, karena Nabi Muhammad Saww memiliki kedudukan Tinggi dan khusus disisi ALLAH SWT, apalagi tentunya bagi mereka yg memiliki mahabbah(kecintaan) yang tinggi kapada Kanjeng Nabi Saww dan keluarganya.

 

Jabatan yg diberikan oleh manusia hanya sementara kenikmatannya, ketika manusia yang dianggap ‘Terhormat’ oleh banyak manusia  ‘Sudah Tiada/meninggal’ atau sudah tidak menjabat pada kedudukan tertentu, hilang sudah semua kenikmatan atau penghormatan yang ditrimanya juga pada orang-orang terdekatnya. tapi Jabatan yang ALLAH berikan pada seorang Hamba, itu berlaku baik didunia maupun diakhirat, seluruh jajaran penghuni langit mengenalnya. Kita boleh memuji dan mengagumi siapapun yang kita kehendaki tapi pujian dan kekaguman kita tidak ada artinya sama sekali dan tidak akan bisa sebanding dengan Pujian dan Sanjungan dari ALLAH SWT kepada para kekasih-NYA.

 

Bagaimanakah Kedudukan Kanjeng Nabi Muhammad Saww disisi ALLAH SWT  ?

 

Imam ‘Ali bin Abi Thalib  berkata: ‘Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengam-bil janji setia dari kaumnya untuk melaku-kan hal yang sama.

 

Untuk hal ini, Allah Swt. berfirman dalam QS. 3: 81:

Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Mu-hammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kali-an benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah ka-lian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.”

 

Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya  “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. 68:4)

 

kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia “ Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari Kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS. 9:128)

 

Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya “ Demi waktu Matahari sepenggalahan naik, Dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada(pula) benci kepadamu.” (QS. 93:1-3)

 

Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bershalawat kepadanya “ Dan sesungguhnya Allah dan Malaikat-NYA bersholawat untuk Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya..”(QS. 33:56)

 

Dalam hadis diriwayatkan Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana engkau tahu Muhammad padahal Aku belum mencipta-kannya?”

 

Nabiyallah Adam as berkata, “Tuhanku…ketika Engkau ciptakan aku dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengangkatkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh. Aku tahu Engkau tidak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Engkau cintai.” Allah Swt berkata, “Engkau benar, Wahai Adam… Muhammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Wahai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan-mu.”

 

 

 

Subhanallah..Allahu Akbar…Allahumma sholli a’la Sayyidina MUhammad wa a’la aali Sayyidina MUhammad, Begitu tingginya kedudukan Kanjeng Nabi Muhammad Saww disisi ALLAH SWT. Beliau adalah Kekasih ALLAH SWT.

 

Kawan…kejadian-kejadian yg kualami diatas itu bisa saja terjadi kelak diakhirat, mungkin kelak kemudahan-kemudahan yang Insya ALLAH akan ALLAH berikan pada umat Nabi Saww ialah dengan melalui diberikannya ‘SYAFAAT’ oleh Rosulullah Saww. Tanda suatu cinta ialah sering menyebut-nyebut namanya, mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya, dan otomatis mencintai segala apa yang berhubungan dengannya.  ” Katakanlah ( Wahai Muhammad ) Aku tidak meminta dari kalian upah atasnya ( dakwah Islam ini ) kecuali mencintai kepada keluargaku “. (QS. al Syura : 23)

 

Semoga dengan seringnya kita memanggil nama Rosulullah Saww yang Habiballah/Kekasih ALLAH beserta orang-orang yang Beliau Cintai kiranya ALLAH berkenan memudahkan jalan kita dihari Penghisaban kelak, Aamiin..Aamiin..Allahumma Aamiiin..

 

Fikiran saya ini hanya berpijak pada Ucapan Imam Ali Bin Abi Thalib as : ” Jadikanlah apa yg telah terjadi sebagai contoh bagi yang akan terjadi, sebab segala sesuatu banyak mengandung persamaan.”

 

 

 

Wasalam…

 

Apr
23

Ummul Fadhl binti Harits berkata bahwa ia datang kepada Rasulullah saw dan bertanya: Ya Rasulullah, tadi malam aku bermimpi yang menakutkan. Rasulullah saw bertanya: Mimpi apa? Ia berkata: Mimpiku sangat menakutkan. Mimpi apa? Tanya Rasulullah saw. Ia berkata: Aku mimpi seakan-akan bagian tubuhmu kuletakkan di pangkuanku. Rasulullah saw bersabda: Kamu mimpi baik, Fatimah akan melahirkan, dan insya Allah anak itu akan berada dalam pangkuanmu. Lalu Fatimah (as) melahirkan Al-Husein (as) dan ia berada dalam pangkuanku sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.

 

Pada suatu hari aku datang kepada Rasulullah saw lalu kuletakkan Al-Husein di pangkuannya, kemudian Rasulullah saw menangis. Aku bertanya: Mengapa engkau menangis? Rasulullah saw bersabda: “Baru saja Jibril datang memberitakan kepadaku bahwa ummatku akan membunuh puteraku ini.”

 

Aku bertanya: Ini (Al-Husein)? Rasulullah saw menjawab: “Ya.., baru saja Jibril datang kepadaku dengan membawa turbah (tanah) Al-Husein yang berwarna merah.”

 

Al-Hakim berkata: hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

 

Hadis ini dan yang semakna juga terdapat dalam:

 

1. Mustadrak Al-Hakim, jilid 4 halaman 398. Diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Al-Hakim berkata: hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, tetapi mereka berdua tidak meriwayatkan dalam kitabnya.

2. Dzakhair Al-Uqba, halaman 148.

3. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 3 halaman 242, hadis ke 13127 dan 13383.

4. Kanzul Ummal, jilid 7 halaman 106, hd 37669.

5. Majmaj Az-Zawaid, jilid 9 halaman 187.

6. Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 115, hadis ke 30.

 

 

Oleh : Ust.Syamsuri Rifai

Apr
23

HADIS – HADIS UTAMA MENGENAI KEUTAMAAN AHLUL BAIT NABI SAWW DALAM KITAB-KITAB HADIS AHLUL SUNNAH WAL JAMAAH

by Sity Aminah on Monday, November 14, 2011 at 1:36am ·

 Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, setelah haji wada’, di hadapan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (as). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir.

 

من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

 

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

 

من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

 

 “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan cintai orang yang mencintainya.”

 

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:

 

“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.” Kemudian beliau memegang tangan Ali (as) seraya bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan pemimpinnya, maka ini adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

 

 

من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

 

 

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpin, maka ini Ali adalah pemimpinnya.”

 

 

KITAB YANG MERIWAYATKAN HADIS AL GHADIR

 

Hadis-hadis tersebut terdapat di dalam:

 

1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.

2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.

3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.

4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.

5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.

6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.

7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.

8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.

9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.

10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.

11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.

12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.

13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.

14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.

15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.

16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.

17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.

18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.

19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.

20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.

21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.

22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.

23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.

24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.

25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.

26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.

27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.

28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.

29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.

30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.

31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.

32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.

33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.

34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.

35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.

36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.

37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.

38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.

39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.

40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.

41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.

42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.

43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.

44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.

45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.

46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.

47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.

48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.

49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.

50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.

51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.

52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.

53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.

54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.

55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq

56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.

57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.

58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.

59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.

60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.

61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.

62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.

63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.

64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.

65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.

66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.

67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.

68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.

69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.

70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.

71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.

72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.

73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.

74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.

75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.

76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.

77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.

78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.

79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.

80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.

81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

 

Perawi hadis Al-Ghadir

1. Muhammad bin Ishaq, shahibus Sirah.

2. Mu’ammar bin Rasyid

3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i).

4. Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani, guru Bukhari.

5. Said bin Manshur, shahibul Musnad.

6. Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), shahibul Musnad.

7. Ibnu Majah Al-Qazwini.

8. At-Turmidzi, shahibush Shahih.

9. Abu Bakar Al-Bazzar, shahibul Musnad.

10. An-Nasa’i.

11. Abu Ya’la Al-Mawshili, shahibul Musnad.

12. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis Tafsir dan Tarikh.

13. Abu Hatim Ibnu Hibban, shahibush Shahih.

14. Abul Qasim Ath-Thabrani, penulis Mu’jam.

15. Abul Hasan Ad-Daruqudni.

16. Al-Hakim An-Naisaburi, shahibul Mustadrak.

17. Ibnu Abd Al-Birr, penulis Al-Isti’ab.

18. Khathib Al-Baghdadi, penulis Tarikh Baghdad.

19. Abu Na’im Al-Isfahani, penulis Hilyatul Awliya’ dan Dalailun Nubuwwah.

20. Abu Bakar Al-Baihaqi, penulis Sunan Al-Kubra.

21. Al-Baghawi, penulis Mashabih As-Sunnah.

22. Jarullah Az-Zamakhsyari, penulis tafsir Al-Kasysyaf.

23. Fakhrur Razi, mufassir.

24. Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi, penulis tarikh Damsyiq.

25. Adh-Dhiya’ Al-Muqaddasi, shahibul Mukhtarah.

26. Ibnu Atsir, penulis Usdul Ghabah.

27. Abu Bakar Al-Haitsami, hafizh besar, penulis Majmauz zawaid.

28. Al-Hafizh Al-Muzzi, penulis Tahdzibul kamal.

29. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, penulis Talkhish al-Mustadrak.

30. Al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi, penulis Misykatul Mashabih.

31. Nizhamuddin An-Naisaburi, mufassir terkenal.

32. Ibnu Katsir, mufassir. Mengakui kemutawatiran hadis Al-Ghadir (lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 5/213).

33. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Bukhari (Fathul Bari).

34. Al-Ayni Al-Hanafi, penulis Umdatul Qari fi syarh shahih Bukhari.

35. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.

36. Ibnu Hajar Al-Makki, penulis Ash-Shawaiqul Muhriqah.

37. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul Ummal.

38. Syeikh Nuruddin Al-Halabi, penulis Sirah Al-Halabi.

39. Syah Waliyullah Ad-Dahlawi, penulis banyak kitab, masyhur dengan julukan Allamah Al-Hindi.

40. Syihabuddin Al-Khafaji, pensyarah Asy-Syifa’ dan penta’liq tafsir Al-Baidhawi.

41. Az-Zubaidi, penulis Tajul ‘Arus.

42. Ahmad Zaini Dahlan, penulis Sirah Ad-Dahlaniyah.

43. Syeikh Muhammad Abduh, mufassir dan pensyarah Nahjul Balaghah.

 

Jumlah Sahabat yang bersama Nabi saw di Ghadir Khum

 

 

Ulama berbeda pendapat tentang jumlah sahabat yang menyertai Nabi saw di Ghadir Khum:

Sebagian pendapat mengatakan: 90.000 sahabat.

Sebagian pendapat mengatakan: 114.000 sahabat.

Ada yang mengatakan: 120.000 sahabat.

Dan ada juga yang menyatakan: 124.000 sahabat.

 

Pernyataan tersebut terdapat dalam:

 

1. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 30.

2. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 257.

3. As-Sirah An-Nabawiyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 3.

4. Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 1, halaman 9.

 

Perawi Hadis Al-Ghadir dari kalangan sahabat nabi saw

Seratus sepuluh sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:

 

1. Abu Hurairah, wafat pada tahun 57/58/59 H.Silahkan rujuk : Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 8, halaman 290 ; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 327 ; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 130 ; Asna Al-Mathalib, halaman 3 ; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 2, halaman 259 ; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114 ; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, jilid 5, halaman 214.

2. Abu Layli Al-Anshari, ia terbunuh pada perang shiffin tahun 37 H. Silahkan rujuk: Al-Manaqib, oleh Khawarizmi, halaman 35; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114.

3. Abu Zainab bin ‘Auf Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 408.

4. Abu Fudhalah Al-Anshari, terbunuh pada perang shiffin. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.

5. Abu Qudamah Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.

6. Abu ‘Amrah bin ‘Amr bin Muhshin Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307.

7. Abu Al-Haitsami At-Tihan, terbunuh pada perang shiffin; silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

8. Abu Rafi’ Al-Qibthi. Silahkan rujuk : Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

9. Abu Dzuwaib Khawailid bin Khalid bin Mahrats, wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Silahkan rujuk: Maqtal Al-Husain.

10. Abu Bakar bin Quhafah, wafat tahun 13 H. Silahkan rujuk: An-Nakhbul Manaqib, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; hadis Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, halaman 3.

11. Usamah bin Zaid bin Haritsah, wafat tahun 54 H. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, tentang Hadis Wilayah, jilid 5, halaman 205; Nakhbul Manaqib.

12. Ubay bin Ka’b Al-khazraji, wafat tahun 30/31 H. Silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib.

13. As-ad bin Zurarah Al-Anshari. Silahkan rujuk: An-Nakhbu, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; Al-Wilayah, oleh Abu Said Mas’ud As-Sijistani; Asna Ath-Thalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, oleh Ibnu ‘Uqdah.

14. Asma’ binti ‘Amis Al-Khats’amiyah. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

15. Ummu Salamah istri Nabi saw. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40. Wasilah Al-Maal, oleh Syaikh Ahmad bin Fadhl bin Muhammad Al-Makki Asy-Syafi’i.

16. Ummu Hani binti Abi Thalib (as). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40; Musnad Al-Bazzar; Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

17. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, Khaddam Nabi saw, wafat tahun 93 H. Rujuk: Tarikh Baghad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Nuzul Abrar; oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari; halaman 4.

18. Barra’ bin Azib Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 72 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 28 dan 29; Khashais Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Baghdad; jilid 14, halaman 236; Tafsir Ath-Thabari, jilid 3, halaman 428; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Ar-Riyadh An-Naadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 25; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 14; Tafsir Fahrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Misykatul Mashabih, halaman 557; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, Halaman 397; Al-Bidayah wan-nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.

19. Buraidah bin Al-Hashib Abu Sahl Al-Aslami, wafat tahun 63 H. Rujuk: Al-Mustadark Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3; Tarikh Al-Hkulafa’, halaman 114; Al-Jami’ Ash-shaghir, jilid 2, halaman 555; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 367; Miftahun Naja, halaman 20; Tafsir Al-Manar, jilid 6, halaman 464.

20. Abu Said Tsabit bin Wadi’ah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Madini. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

21. Jabir bin Sammah bin Junadah Abu Sulaiman As-Suwai, wafat setelah tahun 70 H; dalam Al-Ishabah, ia wafat tahun 73 H. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209;Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.

22. Jabir bin Abdullah Al-Anshari, wafat di Madinah tahun 73/74/78 H. Rujuk: Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 41; Asna Ath-Thalib, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67..

23. Jabalah bin Amr Al-Anshari.

24. Jubair bin Math’am, wafat tahun 57/58/59 H. Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 69; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 31 dan 336.

25. Jarir bin Abdullah bin Jabir, wafat tahun 51/54 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 114; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 399.

26. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari, wafat tahun 31, Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Nakhbul Manaqib. Oleh Al-Ju’abi; Faraid As-Samthin; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Asma Ath-Thalib, oleh, oleh Syamsuddin Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 4.

27. Abu Junaid Junda’ bin Amr Al-Anshari: rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

28. Habbah bin JuJuwayn Abu Qudamah Al-‘Urani, wafat tahun 76/79 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 103; Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 276; Al-Kina wal-Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 2, halaman 88; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372.

29. Hubsyi bin Junadah As-Saluli. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 169; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.

30. Habib bin Badil bin Waraqah Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368.

31. Hudzaifah bin usaid Abu Sarihah Al-Ghifari, wafat tahun 40/42 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Al-fushulul Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh, halaman 25; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209/jilid 7, halaman 348; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 25; As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 301; Majma’uz Zaawaid, jilid 9, halaman 165; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tarikh Ali Muhammad, halaman 68.

32. Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Yamani, wafat tahun 36 H. Rujuk Da’atul Huda Ila Haqqil Muwalat, oleh Al-Hakim Al-Haskani; Asna Al-Muthalib, oleh Al-Jazari, halaman 4.

33. Hassan bin Tsabit, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama, silahkan rujuk syairnya dan biografinya.

34. Al-Imam Al-Mujtaba’ Al-Hasan (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

35. Al-Imam As-Syahid Al-Husain (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.

36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari, syahid pada perang Rumawi tahun 50/51/52 H. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 209; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 2, halaman 154; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, jilid 7, halaman 780/jilid 6, halaman 223/jilid 2, halaman 408, cet. Pertama; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.

37. Abu Sulaiman Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Al-makhzumi, wafat tahun 21/22 H. Rujuk: An-Nakhbu.

38. Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37. Rujuk: Usdul ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

39. Abu Syuraih Khawailid/ Ibnu ‘Amr Al-Khaza’I, wafat tahun 68 H.

40. Rifa’ah bin Abdul Mundzir Al-Anshari. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakbul Manaqib; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi.

41. Zubair bin ‘Awwam, terbunuh tahun 36 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, halaman 3.

42. Zaib bin Arqam Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 66/68 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368; Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Al-Kina Wal-Asma’, jilid 2, halaman 61; Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327;Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi, jilid 2, halaman 199; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 109, 118 dan 533; Ar-Riyad An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 3, halaman 169; At-Talikhish, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 533; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi jilid 3, halaman 224; Mathalib As-Saul, oleh Ibnu Thalhah, halaman 16; Majma’uz Zawaid, oleh Abu Bakar Al-Haitsami, jilid 9, halaman 104 dan 163; Syarhul Madzahib, oleh Az-Zarqani Al-Maliki, jilid 7, halaman 13; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 208; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 14; Tarikh Al-hkulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 338; Raiyadh Ash-Shalihin, halaman 557; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 19 dan 21; Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 350.

43. Abu Saiz Zaid bin Tsabit, wafat tahun 45/48; Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4.

44. Zaid/Yazid bin syarahil Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 2, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 567; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

45. Zaid bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: hadis Al-wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

46. Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqash, wafat tahun 54/55/56/58 H. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4,18 dan 25; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 30; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116;Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 4, halaman 356; Musykil Al-Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi Al-Hanafi, jilid 2, halaman 309;Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 5, halaman 212/jilid 7, halaman 340; Tarikh Al-Khulafa’, oleh Jamaluddin As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 405; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.

47. Sa’d bin Junadah Al-‘Awfi ayah dari ‘Athiyah Al-‘Awfi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; An-Nakhbu; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi.

48. Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 14/15 H. Rujuk: An-Nakhbu, oleh Qadhi Abu Bakar Al-Ju’abi.

49. Abu Said Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khudri (Abu Said Al-Khudri), wafat tahun 63/64/65/74 H, di makamkan di Baqi’. Rujuk Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 80; Al-Fushulul Muhimah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 27; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsammi, jilid 9, halaman 108; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 14; Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 349 dan 350; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 259 dan 298; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390 dan 403; Tafsir An-Manar, jilid 6, halaman 463; Asna Al-Mathalib, oleh Al-Kazari, halaman 3.

50. Said bin Zaid Al-Quraisyi Al-‘Adawi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.

51. Said bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

52. Abu Abdillah Salman Al-Farisi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Al-Nakhbu; Faraid As-Samthin; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

53. Abu Muslim Salamah bin ‘Amr bin Aku’ Al-Aslami, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

54. Abu Sulaiman Sammarah bin Jundab Al-Firusi, wafat di Basrah tahun 58/59/60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakhbul Manaqib; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

55. Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 38 H.Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

56. Abdul Abbas Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’di, wafat tahun 91 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

57. Abu Imamah Ash-Shudi Ibnu Ajlan Al-Bahili, wafat tahun 86 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

58. Dhamrah Al-Asadi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dalam Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi, disebut Dhamrah bin Hadid dan ia mengiranya Dhamrih bin Jundab atau Ibnu Habib.

59. Thalhah bin Abidillah At-Tamimi, terbunuh pada perang Jamal tahun 36. Rujuk: Muruj Adz-Dzahab, oleh Al-Ma’udi, jilid 2, halaman 11; Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 112; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Jam’ul Jawami’, oleh As-Suyuthi; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3.

60. ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 255.

61. ‘Amir bin Layli bin Dhamrah. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92 ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257 ; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.

62. ‘Amir bin Layli Al-Ghifari ; Rujuk : Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257.

63. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laytsi, wafat tahun 100/102/108/110 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 30 dan 118/jilid 4, halaman 370; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15 dan 17; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 26,31 dan 298; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109,110 dan 533; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93 dan 217; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-syafi’I, halaman 15; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 179; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211/jilid 7, halaman 246 dan 348; Al-Ishabah, jilid 4, halaman 159/jilid 2, halaman 252; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 38.

64. ‘Aisyah binti Abi Bakar bin Quhafah, istri Nabi saw. Rujuk : Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

65. ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman nabi saw. Wafat tahun 32 H. Rujuk: Asna Al-Mathalib, oleh Al-Jarazi Asy-Syafi’I, halaman 3.

66. ‘Abdurrahman bin Abdi Rabb Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 408; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

67. Abu Muhammad Abdurrahman bin Auf Al-Qarasyi Az-Zuhri, wafat tahun 31/32 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Asna Al-Mathalib, halaman 3.

68. ‘Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Dili. Rujuk: Hadis Al-Wilayah;Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

69. Abdullah bin Ubay, Abdul Asad Al-Makhzumi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

70. Abdullah bin Badil bin Waraqah pemimpin suku Khaza’ah, terbunuh pada perang shiffin.

71. Abdullah bin Basyir Al-Mizani. Rujuk Al-Wilayah.

72. Abdullah bin Tsabit Al-Anshari. Rujuk; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

73. Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al-Hasyimi, wafat tahun 80 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dan baca Argumennya terhadap Muawiyah dengan hadis Al-Ghadir.

74. Abdullah bin Hanthab Al-Qarasyi Al-Makhzumi. Rujuk; Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi.

75. Abdullah bin Rabi’ah. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

76. Abdullah bin Abbas, wafat tahun 68 . Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 7; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 132; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 7, halaman337;Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 115; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 22, halaman 509; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Tarikh Al-Khulafa’,oleh Jalauddin Asd-Suyuthi, halaman 114; Syamsul Akhbar, oleh Al-Qarasyi, halaman 38; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20 dan 21; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 348; Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Dan Rujuk pula Ayat Tabligh dan Ayat Ikmaluddin.

77. Abdullah bin Ubay, wafat tahun 86/87 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

78. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-‘Adawi, wafat tahun 72/73. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

79. Abu Abdurrahman Abdullah bin Ma’ud, wafat tahun 32/33 H. rujuk: Ayat Tabligh dalam Ad-Durrul Mantsur, oleh Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2, halaman 298; Tafsir Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 57; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

80. Abdullah bin Yamin/Yamil. Rujuk : Al-Mufradat, tentang Hadis Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah : Usdul Ghabah , jilid 3, halaman 274 ; Al-Ishabah, jilid 2, halaman 382 ; Yanabi’ul Mawaddah 34.

81. Utsman bin Affan, wafat tahun 35 H. Rujuk: Al-Mufradat tentang hadis wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.

82. ‘Ubaid bin ‘Azib Al-Anshari, saudara Al-Barra’ bin Azib.

83. Abu Thuraif ‘Adi bin Hatim, wafat tahun 68 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

84. ‘Athiyah bin Bashir Al-Mazini. Rujuk : Hadis Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.

85. ‘Uqdah bin ‘Amir Al-Juhhani, seorang Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Muawiyah selama 3 tahun, wafat sekitar tahun 60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

86. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 337; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Musykil Al-Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi, jilid 2, halaman 307; Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 211; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154,397,399 dan 406; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.

87. Abu Yaqzhan Ammar bin Yasir, syahid pada perang Shiffin tahun 37, rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 222, halaman 273; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

88. Ammarah Al-Khazraji Al-Anshari, terbunuh pada perang Yamamah, Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 65.

89. Umar bin Abi Salamah bin Abdi Asad Al-Makhzumi, anak tiri nabi saw, ibunya adalah Ummu Salamah istri Nabi saw, wafat tahun 83. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.

90. Umar bin Khaththab, terbunuh tahun 23 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I; Ar-Riyath An-Nadharah, oleh Mihibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’I, jilid 2, halaman 161; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Asna Al-Mathalib,m halaman 3; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 249.

91. Abu Najib Imran bin Hashin Al-Khaza’I, wafat tahun 52 H. di Basrah. Rujuk: Hadis Al-wilayah; Asna Al-Mathalib, halaman 4.

92. Amer bin Hamq Al-Khaza’I Al-Kufi, wafat tahun 50 H. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Hadis Al-Wilayah.

93. Amer bin Syarahil. Rujuk: Maqatal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

94. Amer bi Ash. Rujuk: Al-Imamah Was-Siyasah, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 93; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 126.

95. Amer bin Marrah Al-Juhhani Abu Thalhah atau Abu maryam, Rujuk: Al-Mu’jam Al-Kabir; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154.

96. Ash-Shiddiqah Fatimah Az-Zahra’ binti Nabi saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Mawaddah Al-Qurba, oleh Syihabuddin Al-Hamdani.

97. Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib, rujuk: Hadis Al-Wilayah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Mantsur Ar-Razi.

98. Qais bin Tsabit bin Syamas Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.

99. Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama. Rujuk: Argumennya terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dengan hadis Al-Ghadir.

100. Abu Muhammad Ka’b bin Ajrah Al-Anshari Al-Madani, wafat tahun 51 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

101. Abu Sulaiman Malik bin Huwairats Al-Laytsi, wafat tahun 74 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Imam Al-hanabilah Ahmad bin Hambal; hadis Al-Wilayah; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhayi, halaman 20.

102. Miqdad bin Amer Al-Kandi Az-Zuhri, wafat tahun 33 H. rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

103. Najiyah bin Amer Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 543.

104. Abu Barzah Fadhlah bin Utbah/’Abid/Abdullah Al-Aslami, wafat di Khurasan tahun 65 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

105. Nu’man bi Ajlan Al-Anshari, Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.

106. Hasyim Al-Marqal Ibnu Utbah bin Waqash Az-Zuhri Al-Madani, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37 H. Rujuk: Udul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.

107. Abu Wasamah wahsyi bin Harbi Al-Hamashi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

108. Wahab bin Hamzah. Rujuk: Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.

109. Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah As-Suwai, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.

110. Abu Murazim Ya’la bin Marrah bin Wahab Ath-Tsaqali. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 233/jilid 3, halaman 93/jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 3, halaman 543.

 

 

http://disinidandisini.blogspot.com/2011/06/hadis-hadis-utama-mengenai-keutamaan.html

Apr
23

 

Unaizah adalah seorang wanita rupawan baik luar dan dalam dari kabilah Anshar. Karena paksaan dari saudara-saudaranya, ia dinikahkan dengan seorang budak berkulit hitam bernama Asyja’ hingga ia mengandung. Tidak lama kemudian Asyja terbunuh dalam suatu perang.

 

Kebencian Unaizah kepada suaminya membuatnya membenci kepada bayinya yang tak berdosa. Begitu ia melahirkan , ia segera menyerahkan bayinya kepada Bani Mustaliq tanpa menyusuinya sedikitpun.

 

Si bayi tumbuh besar ditengah-tengah Bani Mustaliq. Lama-kelamaan melihat keadaan dan bukti yang ada, ia merasa bahwa dirinya bukan berasal dari kabilah tersebut. Ia berupaya mencari kejelasan asal-usul dan nasab dirinya.

 

 

Meski orang2 kabilah berusaha menutupi fakta sesuai pesan Unaizah , akhirnya pemuda itu mengetahui  rahasia yang selama ini tersimpan rapat. Ia tahu bahwa ibunya adalah Unaizah dari Anshar dan ayahnya adalah seorang pejuang dari Bani Abbas yang tewas dalam perang.

 

Pemuda berwajah hitam itu lalu mencari ibunya. Saat ia menemukannya, ia malah diusir dan tidak diakui sebagai anak.

 

 

Pemuda malang yang melihat nasibnya lebih gelap dari kulitnya, meminta bantuan dari pihak penguasa. Khalifah Umar memanggil Unaizah dan memberitahukan pengakuan si pemuda. Namun Unaizah tetap mangkir dan tidak bersedia mengaku bahwa ia adalah istri ayah pemuda itu.

 

Khalifah Umar meminta si Pemuda membawa saksi-saksi, namun ia tidak memiliki saksi seorangpun. Di lain pihak, dengan memanfaatkan kedudukan sosialnya, Unaizah membawa beberapa saksi yang menyatakan bahwa ia belum menikah ddan tidak mempunyai anak.

 

Akhirnya si pemuda dianggap telah berdusta dan dikenai hukuman. Saat akan dibawa kepenjara, disana terdapat Imam Ali Bin Abi Thalib as, Imam melihat kegelisahan pemuda itu dan bertanya. Setelah mendengar seluruh peristiwa dari mulut sipemuda dan menyaksikan tanda-tanda kejujuran dan ke-Mazlum-annya, Imam menyuruh petugas mengembalikannya ke Mesjid. Beliau juga meminta Umar memanggil kembali Unaizah dan memeriksanya kembali.

 

Unaizahpun kembali mengingkari dakwaan si pemuda. Imam berpaling pada si pemuda dan berkata, “ Kau juga ingkarilah bahwa kau adalah anaknya.”

 

Si Pemuda dengan enggan menuruti perintah Imam dan menyatakan bahwa ia bukan anak Unaizah.

Amiril Mukminin Ali Bin Abi Thalib as memanggil para wali Unaizah kepangadilan dan bertanya kepada mereka “ Apakah keputusanku berlaku pada wanita ini..?

 

Mereka menjawab , “ Tidak hanya pada dirinya bahkan keputusan anda  berlaku atas diri kami semua.”

 

Saat itu, Imam mengatakan, “ Aku jadikan kalian sebagai saksi bahwa wanita ini kunikahkan dengan pemuda yang bukan muhrimnya ini.”

 

Beliau lalu menyruh Qanbar mengambil pundi uang dari rumah. Uang sejumlah empat ratus dirham diberikan  Imam kepada Unaizah sebagai mahar dan berkata kepada si pemuda, “ Bawalah istrimu ini dan jangan kesini sebelum engkau melihat tanda-tanda perkawinan..!”

 

Dengan perintah Imam, si pemuda menggandeng tangan Unaizah yang masih menyisakan kecantikan masa mudanya. Baru beberapa langkah Unaizah kembali kepengadilan dengan tubuh gemetar dan berkata, “ Wahai Abu Hasan…cukup sudah…Aku melihat api neraka dan kehinaan dihadapanku. Sekarang aku mengaku bahwa ia adalah anakku..”

 

Setelah mendengar pengakuan wanita itu, Imam Ali as menanyakan peristiwa yang sebenarnya. Unaizah lalu menceritakan apa yang pernah terjadi antara dia dan Asyja’  Abbasi suaminya dan kejadian-kejadian setelahnya.

 

Lalu Imam Ali bertakbir dan mengucapkan syukur kepada ALLAH yang telah menyingkap kebenaran. Saat Unaizah memeluk putranya dan mencium wajahnya dengan keibuan, masjid dipenuhi dengan gema Takbir orang-orang yang menyaksikannya..

 

 

ALLAHU AKBAR…!

Salam atasmu Ya Amiril Mukminin…

Wahai engkau yang paling absah ucapannya, paling piawai pendapatnya, paling berani jiwanya.

Wahai engkau terhadap kaum mukminin seperti ayah pengayom, disisimu  mereka seolah-olah anak-anak didikmu.

Wahai engkau laksana benteng pelindung bagi kaum mukminin..

Ucapanmu adalah hukum dan ketetapan.

Salam atasmu Wahai Keluarga Nabi…

 

Apr
23

 

Disunnahkan pada malam penguburan untuk shalat dua rakaat sebagai hadiah untuk jenazah. Shalat itu dinamakan shalat wahsyah.

 

Nabi Saww bersabda : “ Akan datang  suatu saat yang benar-benar menakutkan si mayit(jenazah) yaitu pada malam hari pertama setelah penguburannya. Maka kasihanilah dan bantulah orang yang meninggal diantara kalian dengan membagi sedekah, apabila tidak ada sesuatu yang disedekahkan maka shalatlah diantara kalian sebanyak dua rakaat.” (Al-Bihar juz 91, hal 219)

 

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahawa Imam Ja’far Shadiq as berkata : “ Terkadang mayit dalam keadaan sulit dikuburnya, kemudian diringankan karena shalat seseorang yang dihadiahkan padanya, dan mayit didalam kuburnya diberitahu bahwa engkau diringankan karena shalatnya sifulan anakmu atau saudaramu(baik seagama atau lainnya) yang dihadiahkan kepadamu.” (Al-Wasail juz 2 hal 443, juz 8 hal 280)

 

Kemudian beliau ditanya bolehkah satu shalat dihadiahkan untuk banyak orang ?” Beliau as menjawab : “ Boleh..”. Kemudian beliau menjelaskan  bahwa “ Mayit merasa senang dengan panjatan doa dan ampunan untuknya sebagaimana senangnya seseorang yang diberi hadiah..”

 

Beliau as berkata : “ Semua yang diperuntukkan pada mayit baik shalat, puasa, Haji, sedekah, kebaikan dan doa akan sampai kekuburannya dan pahala untuk keduanya (pelaku dan si mayit) tetap diperoleh.”

 

Dalam riwayat lain Beliau as berkata : “ Barang siapa melakukan sedekah untuk mayit, Allah akan memerintahkan Jibril untuk mengutus tujuh puluh ribu malaikat, disetiap tangannya ada Baki(hadiah) sambil membawa baki tersebut kekuburnya, dan berucap salam..: ‘ Wahai kekasih Allah, ini hadiah dari Fulan Bin Fulan yang suka(sayang-pent) padamu, kemudian bercahayalah kuburnya dan Allah menganugrahkan (buat pelakunya) seribu kota disyurga, dikawinkan dgn seribu Bidadari, dengan seribu macam pakaian dan Allah menyelesaikan seribu hajatnya.” (Al-Wasail, juz 2 hal 445)

 

Shalat Wahsyah Memiliki dua cara :

 

–          Cara Pertama pada rakaat pertama setelah membaca surah Al-Fatihah, membaca surat Al-Ikhlas, dan pada rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah membaca surah At-Takatsur sepuluh kali, dan setelah salam membaca doa berikut ini :

 

Allahumma sholli a’la Muhammad wa ali Muhammad wab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan bin Fulan.

 

“ Ya Allah…sampaikan sholawat dan salam salam sejahtera pada Nabi Muhammad beserta keluarganya dan sampaikan pahala shalat ini kekubur Fulan bin Fulan (nama mayit).

 

-Cara yang kedua, pada rakaat pertama setelah membaca Al-Fatihah membaca ayat kursi, sedang pada rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah membaca surat Al-Qadr sepuluh kali, adapun bacaan setelah salamnya sama dengan diatas.

 

 

Sumber : Shalat Dalam Mazhab AhlulBait

Oleh : Ust. Syarif Hidayatullah Husain.


Apr
23

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

اللّهم صلى عل محمّد و ال محمّ

 

 

Pada Zaman Nabi Musa a.s peceklik yang hebat menimpa Bani Israil. Orang-orang yang beriman memohon hujan kepada Allah sampai tujuh puluh kali. Namun doa mereka tidak diijabah.

 

Suatu malam, Nabiyallah Musa as pergi kebukit Thur. Dalam munajatnya ia menangis sambil berucap :

 

“ Tuhanku…apabila kedudukanku disisi-MU tiada bernilai, aku memohon kepada-MU, demi kedudukan seorang Nabi akhir Zaman Muhammad Saww, turunkanlah hujan rahmat-MU kepada kami.”

 

Lalu datanglah wahyu,  “ Wahai Musa…kedudukanmu terpelihara disisi kami. Akan tetapi diantara kalian ada seorang yang selama empat puluh tahun berbuat dosa secara terang-terangan. Jika kalian keluarkan ia dari tengah kalian, AKU akan menurunkan hujan rahmat-KU kepada kalian.”

 

Nabi Musa a.s menjerit ditengah Bani Israil, “ Wahai seorang hamba yang selama empat puluh tahun berbuat maksiat kepada Tuhan, keluarlah dari komunitas kami agar ALLAH SWT menurunkan hujan rahmat-NYA kepada kami, karenamu DIA mencegah kami dari kemurahan dan Rahmat-NYA.”

 

Laki-laki pendosa yang mendengar seruan Nabi Musa itu, memahami dialah penghalang turunnya rahmat ALLAH. Di hatinya berkata, “Apa yang harus kuperbuat ? jika aku tetap disini TUHAN tidak menurunkan rahmat. Jika aku keluar, mereka akan mengetahui aku dan saat itu aku akan terlihat belangnya, lalu ia bermunajat :

 

“ Tuhanku…aku menyadari  kalau aku telah selalu bermaksiat kepada-MU, kini aku datang menghadap kepada keagungan-MU dengan penyesalanku atas amal perbuatan burukku, aku bertaubat…

Terimalah aku dan janganlah engkau hambat hujan rahmat-MU dari kaum ini lantaran aku..”

 

Belum selesai ucapannya itu, muncul dilangit awan-awan mendung, hujan turun dengan lebat. Nabiyallah Musa as berkata :

 

“ Tuhanku…telah ENGKAU turunkan hujan rahmat-MU saat seseorang tidak keluar dari tengah kami..”

 

“ Wahai Musa…orang yang karena AKU memutuskan rahmat-KU dari kalian telah bertaubat. Kini karenanya juga AKU menurunkan hujan rahmat-KU kepada kalian.”

 

Nabiyallah Musa : “ Tuhanku…sudikah ENGKAU tunjukkan kepadaku hamba-MU itu ?”

 

“ Tidak sama sekali Wahai Musa…, AKU tidak menyingkap aibnya meskipun ia berbuat maksiat selama empat puluh tahun. Seperti  sekarang pun tetap AKU tutupi dan itu bukan karena ia telah bertaubat. Wahai Musa…AKU membenci pengadu domba dan pemfitnah, apakah engkau akan mengatakan diri-KU berbuat adu domba..?”

 

 

Sumber : ” Kisah-kisah  Pertolongan ALLAH “


Apr
23

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

اللّهم صلى عل محمّد و ال محمّ

 

لا حول ولا قوة إلا بالله توكلت أعلى ا والحمد لله الذي لم يتحذ ولدا ولم يكن له سيريكٌ في الملك ولم يكن له ولي من

 

ألذ ل- وكبره تكبرا

 

Tiada daya dan upaya kecuali Allah, Aku bertawakal pada Dzat kehidupan yang kekal Abadi Tiada kematian pada diri-NYA, dan segala puji untuk Allah yg tiada pernah menjadikan anak dan sekutu pada kerajaan-NYA, tiada kekasih-NYA yang rendah dan agungkan kebesaran-NYA.

 

 

Cara Sholat :

 

– Shalat dua rakaat pada rakat pertama membaca Al-Fatihah dan 10x ayat

 

رب إغفرلي ولوا لدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

 

Robbigfirlii waliwa lidayya  walilmu’ miniina yauma yakuumu lhisaab

 

Ya Robbi Ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang Mukminin dihari dihisabnya amalan setiap orang.

 

 

-Pada Rakaat kedua membaca Al-Fatihah dan 10x ayat :

 

رب أغفرلي  ولوالدي ولمن  دخل بيتي مؤمناً وللمؤمنين  والمؤمنات

 

 

Robbigfirlii waliwa lidayya waliman dakhola baytiya mu’minan walilmu’ minina wal mu’minaat

 

Ya Robbi ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang Mukmin yang masuk kerumahku dan ampunilah orang-orang Mukmin laki-laki dan wanita.

 

 

-Setelah salam membaca 10x ayat :

 

رب ارحمهما كما ربياني صغيرا

 

Robbi..Kasihanilah keduanya sebagaimana belas kasihan mereka saat memelihara aku semasa kecil.

 

 

 

 

 

Sholat Orang Tua Untuk anak-anaknya.

 

Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq(cucu Nabi Muhammad) setiap malam melakukan shalat utk anaknya dan utk kedua orng tuanya sebanyak 2 rakaat, pd rakaat pertama stlh Al-fatihah membaca surah Al-qadr,& pd rakaat kedua stlh Alfatihah membaca surah Al-Kautsar.(Al-Wasail, juz 2 hal 445)

 

 

 

Mohon Maaf bila terdapat kesalahan dalam pengetikan.

 

Sumber : Shalat Dalam Mazhab Ahlulbait

Oleh      : Ust.Syarif Hidayatullah Husain.

 

Apr
23

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

اللّهم صلى عل محمّد و ال محمّ

 

 

Renungkanlah apa yg telah terjadi didunia ini. Apakah ada yg tertinggal darinya untuk seseorang ? Apakah masih ada seseorang yg masih tinggal didalamnya, entah ia itu hina atau mulia, kaya atau miskin, kawan atau lawan ? begitu pula, apa yg belum terjadi padanya lebih menyerupai apa yang telah terjadi padanya, sebagaimana air menyerupai air.

 

Rosulullah Saww Bersabda :

 

” Kematian itu sudah cukup untuk memberikan peringatan kepada orang; akal itu sudah cukup untuk orang sebagai penunjuk jalan; ketakwaan itu sudah cukup sebagai ketentuan; ibadah itu sudah cukup sebagai pekerjaan; Tuhan itu sudah cukup sebagai kawan dekat; Al-Quran itu sudah cukup sebagai Penjelasan.”

 

Dan ditempat lain Beliau Saww bersabda :

 

” Hanya Kesengsaraan dan cobaan yang tinggal didunia ini. Jika seseorang diselamatkan, itu hanya karena ia telah mencari perlindungan dengan tulus.”

 

Dan Nabiyallah Nuh a.s berkata :

 

“Aku dapati dunia ini bagaikan sebuah rumah dengan dua pintu. Aku masuk melalui salah satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain.”

 

Begitulah keadaan orang yang diselamatkan oleh Allah; lalu bagaimana keadaan orang yang merasa senang didunia ini, bergantung padanya, menyia-nyiakan hidupnya dengan menggalinya, dan dipenuhi oleh tuntutan-tuntutan duniawi ?

 

Perenungan(tafakur) adalah cerminan perbuatan-perbuatan baik dan tebusan bagi perbuatan-perbuatan buruk, ia menjadi cahaya hati, dan menjamin kemudahan bagi orang-orang lain dan keberhasilan untuk mencapai perbaikan bagi dunia yang akan datang ; ia memungkinkan seseorang untuk meramalkan akibat dari tindakan-tindakannya, dan menyebabkan meningkatnya pengetahuan. Ibadah kepada Allah menjadi tiada taranya jika disertai dengan perenungan.

 

Rosulullah Saww bersabda :

 

” Merenung selama satu saat itu lebih baik dari pada beribadah selama setahun “

 

Tingkat perenungan itu hanya dapat dicapai oleh orang yang telah dipilih Allah untuk menerima cahaya ma’rifah dan Tawhid.

 

~ Imam Ja’far Shadiq a.s ~

Apr
23

Diwaktu sore menjelang magrib ketika sang surya akan tenggelam, ku masih berada didalam metro mini(mini bus) yang membawaku pulang dari sekolahku(dulu), bis itu begitu sesak berjejal, aku mendapat tempat ditengah2 sambil berdiri, hal ini sudah menjadi rutinitas menghiasi  hari-hariku. Hawa panas penuh sesak mengalirkan banyak keringat  pada seluruh penumpang, sering ku iri melihat mereka yang naik mobil pribadi ber AC, dengan membaca Koran sambil menunggu lampu merah, duhh…nikmatnya mereka, tidak merasakan keadaan seperti ini fikirku.

 

Mobil ini seperti biasa cepat berjalan bahkan terkadang kebut-kebutan mengejar penumpang, demi uang seribu dua ribu  terkadang mereka tidak ambil pusing terhadap semua resiko bahkan nyawa sekalipun.

 

Tempat tujuanku dicililitan itu hampir sampai, kulihat disekelilingku, hampir tidak ada perempuan yg berdiri kecuali aku, depan belakang hampir tak ada jalan untuk ku lewat, lewat depan hampir sama sekali tidak bisa lewat, jadi terpaksa kuambil pilihan lewat belakang, walau kulihat hampir sama tapi apa boleh buat aku harus mengambil pilihan utk turun.

 

Tanganku mulai dingin, jantungku berdebar keras, badanku lemas karena takutnya aku untuk lewat, kulihat disekelilingku semua pria(anak kuliahan) dan banyak diantaranya berambut maaf gondrong, penampilan yang benar-benar membuatku takut. Fikiranku mulai tak menentu, aku takuuuut sekali untuk lewat, aku takut mereka menyentuh jilbabku, dalam keadaan demikian aku sangat sulit untuk membela diriku(bila mereka macam-macam), bila mereka menginginkan hal-hal yang buruk padaku ITU SANGAT MUDAH, krn memang posisiku serba sangat sulit.

 

Ku berdoa tak henti-hentinya, Ya Robb..tolong hamba…tolong hamba… tak lupa dengan bertawasul pada para Imam kuharapkan pertolongan-NYA.

“ Kiri pak..!” kataku pada kenek.

Bismillah..Ya Robb…lemas kakiku tuk melangkah, aku pasrah atas apa yang akan terjadi padaku, fikirku.

 

Ketika ku mulai melangkah ada seorang laki-laki berteriak pada teman-temannya sambil menjagaku lewat “ Minggir…Minggir…perempuan sorga mau turun..”

 

 Aduhhhh….Ya Allah..syukran lillah..atas pertolongan-MU, sepanjang kakiku melangkah didalam bis ia dan teman-temannya justru menjagaku dari penumpang lain sehingga begitu mudahnya kuberjalan dalam bis untuk turun, ia terus menjagaku sampai kepintu bis, Aku tau.. ia menggodaku dgn perkataan demikian tapi cukup membuatku tersanjung, semoga Ya Robb…

 

Ketika selangkah lagi kaki ini menuruni Bis, ku bertakbir ALLAHU AKBAR ! SYUKRAN LILLAH YA..ALLAH…, hamba selamat tak seorangpun yg menyentuh hamba. Ku bersyukur pada Allah karena selembar kain ini yang telah menolongku, melalui perantaranya Allah telah Melindungi diriku dari segala godaan, dan  Allah telah menggerakkan hati mereka utk melindungiku.

 

Pengalaman itu cukup berkesan dihati, dan merubah fikiranku bahwa memang ‘Penampilan itu tidak menjamin seseorang, tidak selamanya yang nampak buruk(menurut kita) adalah buruk, kata orang jangan menilai buku dari sampulnya. Tidak ada manusia yang sempurna, ambil baiknya buang buruknya,.”

Apr
23

Diwaktu sore menjelang magrib ketika sang surya akan tenggelam, ku masih berada didalam metro mini(mini bus) yang membawaku pulang dari sekolahku(dulu), bis itu begitu sesak berjejal, aku mendapat tempat ditengah2 sambil berdiri, hal ini sudah menjadi rutinitas menghiasi  hari-hariku. Hawa panas penuh sesak mengalirkan banyak keringat  pada seluruh penumpang, sering ku iri melihat mereka yang naik mobil pribadi ber AC, dengan membaca Koran sambil menunggu lampu merah, duhh…nikmatnya mereka, tidak merasakan keadaan seperti ini fikirku.

 

Mobil ini seperti biasa cepat berjalan bahkan terkadang kebut-kebutan mengejar penumpang, demi uang seribu dua ribu  terkadang mereka tidak ambil pusing terhadap semua resiko bahkan nyawa sekalipun.

 

Tempat tujuanku dicililitan itu hampir sampai, kulihat disekelilingku, hampir tidak ada perempuan yg berdiri kecuali aku, depan belakang hampir tak ada jalan untuk ku lewat, lewat depan hampir sama sekali tidak bisa lewat, jadi terpaksa kuambil pilihan lewat belakang, walau kulihat hampir sama tapi apa boleh buat aku harus mengambil pilihan utk turun.

 

Tanganku mulai dingin, jantungku berdebar keras, badanku lemas karena takutnya aku untuk lewat, kulihat disekelilingku semua pria(anak kuliahan) dan banyak diantaranya berambut maaf gondrong, penampilan yang benar-benar membuatku takut. Fikiranku mulai tak menentu, aku takuuuut sekali untuk lewat, aku takut mereka menyentuh jilbabku, dalam keadaan demikian aku sangat sulit untuk membela diriku(bila mereka macam-macam), bila mereka menginginkan hal-hal yang buruk padaku ITU SANGAT MUDAH, krn memang posisiku serba sangat sulit.

 

Ku berdoa tak henti-hentinya, Ya Robb..tolong hamba…tolong hamba… tak lupa dengan bertawasul pada para Imam kuharapkan pertolongan-NYA.

“ Kiri pak..!” kataku pada kenek.

Bismillah..Ya Robb…lemas kakiku tuk melangkah, aku pasrah atas apa yang akan terjadi padaku, fikirku.

 

Ketika ku mulai melangkah ada seorang laki-laki berteriak pada teman-temannya sambil menjagaku lewat “ Minggir…Minggir…perempuan sorga mau turun..”

 

 Aduhhhh….Ya Allah..syukran lillah..atas pertolongan-MU, sepanjang kakiku melangkah didalam bis ia dan teman-temannya justru menjagaku dari penumpang lain sehingga begitu mudahnya kuberjalan dalam bis untuk turun, ia terus menjagaku sampai kepintu bis, Aku tau.. ia menggodaku dgn perkataan demikian tapi cukup membuatku tersanjung, semoga Ya Robb…

 

Ketika selangkah lagi kaki ini menuruni Bis, ku bertakbir ALLAHU AKBAR ! SYUKRAN LILLAH YA..ALLAH…, hamba selamat tak seorangpun yg menyentuh hamba. Ku bersyukur pada Allah karena selembar kain ini yang telah menolongku, melalui perantaranya Allah telah Melindungi diriku dari segala godaan, dan  Allah telah menggerakkan hati mereka utk melindungiku.

 

Pengalaman itu cukup berkesan dihati, dan merubah fikiranku bahwa memang ‘Penampilan itu tidak menjamin seseorang, tidak selamanya yang nampak buruk(menurut kita) adalah buruk, kata orang jangan menilai buku dari sampulnya. Tidak ada manusia yang sempurna, ambil baiknya buang buruknya,.”